60 Negara Rentan Susah Bayar Utang, Sri Mulyani Ungkap Kondisi RI

Senin, 23 Oktober 2023 – 16:20 WIB

Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, saat ini sebanyak 60 negara mengalami kerentanan atau permasalahan utang. Hal itu disampaikannya dalam kuliah umum di Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang.

Baca Juga :

DPR Setujui Kenaikan UMP 2024, Ini Alasannya

“Kita sudah lihat banyak negara latin Amerika dari tahun 80-90 mengalami kondisi krisis utang. Negara-negara Afrika sekarang dan banyak middle income sekarang 60 negara dalam kondisi vulnerable utangnya,” ujar Sri Mulyani Senin, 23 Oktober 2023.

Bendahara Negara ini mengatakan, kondisi ekonomi dan keuangan di banyak negara termasuk di Eropa kini sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.

Baca Juga :

Uni Eropa Jadi Negara Terbesar Beri Bantuan untuk Palestina, Nominal Capai Rp1,2 Triliun

Menkeu Sri Mulyani Indrawati.

“Negara-negara Eropa dari mulai Italia, Spanyol, Portugal, Prancis, Jerman liat berapa utangnya negara. Saya enggak nanya Yunani yang kemarin mengalami krisis. Tapi mereka sudah lebih dari 60 persen (rasio utangnya),” jelasnya.

Baca Juga :

Sri Mulyani: Pemilu Dampaknya Baik, Asal Tidak Ada Pecah Belah

“Negara yang tadinya disiplin, sekarang enggak. Jadinya ekonomi dan keuangan negaranya situasinya sangat tidak baik,” tambahnya.

Untuk Indonesia sendiri jelas Sri Mulyani, Pemerintah menerapkan disiplin fiskal. Dalam hal ini APBN tidak diperbolehkan defisit lebih dari 3 persen per tahunnya, dan utang tidak boleh lebih dari 60 persen dari PDB per tahun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Namun, saat masa pandemi diterbitkan aturan yang memperbolehkan defisit lebih dari 3 persen selama tiga tahun. Tercatat pada 2020 defisit mencapai -6,1 persen, 2021 turun menjadi -4,6 persen, dan 2022 kembali di -2,4 persen.

Baca Juga  Minggu Depan Jakarta Diserbu Mobil-mobil Modifikasi

Sri Mulyani membeberkan, saat adanya pelebaran defisit itu banyak dari lembaga dunia mempertanyakan tentang hal tersebut. Mereka mempertanyakan apakah dalam tiga tahun ke depan pandemi akan berakhir.

“Jadi saya mengatakan Kita kasih waktu 3 tahun saja, untuk memberi rasa disiplin, kita harus kembali lagi ke apa yang disebut disiplin fiskal,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Source : VIVA/M Ali Wafa

Halaman Selanjutnya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *